
Tren Pembangunan Infrastruktur 5G di Indonesia 2024
Indonesia memasuki fase percepatan pembangunan infrastruktur 5G dengan target cakupan di 13 kota besar. Analisis tren dan peluang bagi industri konstruksi telekomunikasi.

Tahun 2024 menjadi tahun krusial bagi pembangunan infrastruktur 5G di Indonesia. Setelah peluncuran komersial 5G oleh beberapa operator pada 2021-2023, kini industri memasuki fase percepatan pembangunan infrastruktur pendukung yang lebih masif. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menargetkan layanan 5G tersedia di 13 kota besar di Indonesia pada akhir 2025.
Investasi dan Infrastruktur 5G
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), total investasi infrastruktur 5G di Indonesia diperkirakan mencapai USD 15 miliar dalam kurun waktu 2024-2028. Investasi ini mencakup pembangunan tower baru, upgrade tower existing, pemasangan perangkat 5G, dan pembangunan jaringan fiber optic sebagai backbone.
Salah satu tren utama adalah meningkatnya kebutuhan small cell dan micro cell untuk 5G yang memerlukan infrastruktur berbeda dari tower makro konvensional. Small cell biasanya dipasang pada tiang lampu jalan, dinding gedung, atau struktur street furniture lainnya. Hal ini membuka peluang baru bagi kontraktor telekomunikasi untuk diversifikasi layanan.
Spesifikasi Teknis Tower 5G
Dari sisi teknologi, tower 5G memerlukan spesifikasi yang lebih tinggi dibandingkan tower 4G. Beban angin yang harus ditanggung lebih besar karena jumlah antena yang lebih banyak (Massive MIMO dengan 32-64 elemen antena). Selain itu, kebutuhan daya listrik juga meningkat signifikan, sehingga infrastruktur CME harus didesain dengan kapasitas yang lebih besar.
PT Mora Jaya Persada telah mengantisipasi tren ini dengan melakukan peningkatan kompetensi tim engineering khususnya dalam desain tower 5G dan instalasi perangkat Massive MIMO. Perusahaan juga telah berinvestasi dalam peralatan khusus seperti crane dengan kapasitas lebih besar dan alat ukur RF terkini.
Fiber Optic dan Network Sharing
Tren lainnya adalah peningkatan demand fiber optic sebagai backbone 5G. Setiap site 5G memerlukan koneksi fiber optic dengan bandwidth minimal 10 Gbps, jauh lebih tinggi dari kebutuhan 4G. Hal ini mendorong masifnya pembangunan jaringan fiber optic baru di seluruh Indonesia, terutama di area yang sebelumnya masih mengandalkan koneksi microwave.
Pemerintah juga mendorong konsep network sharing dimana beberapa operator dapat berbagi infrastruktur tower dan fiber optic untuk efisiensi investasi. Kebijakan ini diperkirakan akan mengubah model bisnis kontraktor telekomunikasi dari single-tenant menjadi multi-tenant infrastructure provider.
Bagi perusahaan kontraktor seperti PT Mora Jaya Persada, era 5G membawa peluang besar sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan kapabilitas. Perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi baru dan memenuhi standar kualitas yang lebih tinggi akan menjadi pemenang dalam kompetisi industri telekomunikasi masa depan.



